Berpuluh-puluh tahun yang lalu, seperti hampir semua anak kecil di dunia; saya pernah bertanya-tanya "Dari manakah datangnya seorang anak?". Dan saya pernah mempunyai pemikiran (menurut saya dulu) sangat indah. Menurut pemikiran saya yang waktu itu belum mengenal istilah pembuahan ataupun proses-proses kenikmatan yang mendahuluinya hahaha..., anak dihasilkan dari pengharapan dan doa.
Saat sepasang suami-istri menikah, maka diberkatilah mereka. Mereka akan saling mengasihi dan berdoa bersama akan datangnya seorang anak. Oleh karena itu, tidak jarang saya waktu kecil dulu sering mendengar perkataan, "Mereka masih menunggu datangnya seorang anak dalam kehidupan mereka". Wah, kenapa pakai kata-kata seperti itu? Kesannya terlalu 'saru'. Sampai-sampai muncullah pemikiran saya bahwa seorang anak tiba-tiba 'diselipkan' begitu saja ke rahim seorang ibu.
Belakangan saya baru tahu kalau seorang anak itu bukan ditunggu kedatangannya, tapi 'diusahakan'. Yah mungkin juga saya bisa berpikir seperti itu karena dulu belum tahu ada kasus seperti 'hamil di luar nikah', 'kecelakaan' ataupun 'unwanted child' (Nah kalau memang anak didatangkan dengan doa, tentunya atas persetujuan Tuhan dong. Dengan kata lain yang bisa hamil itu cuma istri-istri dari pasangan yang sah secara agama dan direstui oleh seluruh sanak keluarga). Waktu itu juga sepertinya gelar MBA (Married By Accident) belum begitu populer.
Tapi saya pernah mendengar sebuah berita di televisi yang mengubah konsep 'anak datang dari doa'. Kalau tidak salah ingat, berita tersebut tentang seorang guru yang amat sangat genit dan sangat 'dekat dan akrab' dengan muridnya. (dekat dalam arti, Sangat... dekat sekali dalam makna denotasi). Nah kira-kira laporan yang dibacakan oleh pembawa berita (atau apalah namanya yang baca berita pas dikasih gambar) itu berbunyi, "Tersangka terkenal suka memegang-megang siswi. Ada yang pipinya dielus, bahkan ada yang hamil.".
Sudah bisa ditebak apa yang ada di pikiran saya waktu itu "Oh... ternyata mengelus pipi bisa berefek samping hamil!!!". Pikiran saya tidak berhenti di sana, lalu saya mengambil satu kesimpulan teori: "Sentuhan seorang lelaki bisa meresap ke dalam kulit dan akhirnya tiba di perut. Membesar, membesar, dan akhirnya menjadi seorang bayi". Hmm, bahaya bener !!!... Pantesan orang-orang tua selalu bilang kepada anak gadisnya, "Hati-hati, jangan tidur sama lelaki!!". Wah, berarti pas tidur seranjang, sebelah-sebelahan, tiba-tiba tengah malam nanti ada 'sesuatu' yang tiba-tiba merayap keluar dari si jantan dan menyusup ke perut betina? Dan TUING!!! Mengembanglah perut sang betina.
Tapi, belakangan (saat saya kira-kira sudah SMP) ibu teman saya malah bilang kepada kakak perempuan teman saya, "Tidur sama cowok itu gak papa. Asal bener tidur bareng ya. Kalau gak tidur, nah, itulah yang bahaya!". Hm... ada benarnya juga sih...
Oh iya, ngomong-ngomong. Kalau dilihat di komik ataupun di film kartun, ada yang menceritakan bahwa bayi itu didatangkan oleh burung besar! (entah jenis apa dan dari mana). Wah... kalau dipikir-pikir, aneh juga ya cerita ini, kira-kira masih ada anak kecil yang percaya gak ya? Soalnya menurut fakta, banyak hewan termasuk burung tentunya, terancam punah karena ekspansi wilayah yang dilakukan manusia ke habitat mereka di alam. Lalu di mana letak logikanya kalau pembawa kelahiran itu sendiri terancam punah sementara manusia malah semakin banyak?
Yah, mungkin memang seharusnya cerita film kartun tidak boleh dianggap serius. Mari kita ke tahap selanjutnya, hal lahir melahirkan. Hm.. Sepertinya saya mengerti istilah 'caesar' terlebih dahulu daripada lahir alami. Kenapa bisa begitu? Gampang saja alasannya. Setelah bayi tumbuh besar di dalam perut, ia perlu segera dikeluarkan sebelum perut ibunya meledak. Nah cara paling cepat adalah membuka perut ibu, mengeluarkan bayi, lalu kita tutup kembali. Hampir persis sama seperti cara kerja resleting. Bagaimana prosesnya secara lebih mendetail? Ah, peduli amat dengan tetek bengek proses 'caesar' itu. Toh dokter pasti punya obat bius kan? Tinggal suntik sana suntik sini, siaplah perut ibu dibedah tanpa rasa sakit.
Pada waktu masih SD, seorang teman menceritakan teorinya yang lebih ajaib lagi. Katanya, sebenarnya saat ibu hamil, isi perutnya adalah cairan. Lalu bagaimana cara melahirkan? Dengan penuh keyakinan dia berkata, "Melalui cara yang sama kayak kencing." "Heh? Kenapa bisa begitu? Kalau yang keluar cuma cairan, bayinya mana? Apa harus dibekukan sampai pada suhu 0°C? Pake cetakan kue?"... "Denger dulu dong. Setelah semua cairan dikeluarkan, kempeslah perut si mama. Tugas dokter adalah memastikan agar cairan tersebut tertampung seluruhnya dengan baik. Jangan sampai ada yang tumpah! Nanti bisa-bisa bayinya cacat. Setelah ditampung, biarkan beberapa lama, lalu dengan sendirinya air kencing itu akan berubah menjadi seorang bayi!!!" ... Heh? Kok gaya penjelasannya bahkan seperti di resep-resep masakan? (setelah matang, biarkan beberapa lama, lalu makanan siap dihidangkan hehe...).
Mungkin juga teman saya itu berpikir kalau setelah cairan itu ditampung, lalu dimasukkan ke dalam inkubator. Jadi guna inkubator seperti guna oven pada pembuatan roti. Masukkan cairan, lalu cairan tersebut akan mengembang, sebagian menjadi daging, tulang, sebagian besar masih berupa cairan, yaitu darah.
Mungkin teman saya itu terinspirasi untuk membandingkan antara inkubator (yang bentuknya kotak) yang ada di rumah sakit dan oven (kotak juga!) yang ada di dapur. Hehehe.... Begitulah kalau para intelektual muda (yang sangat muda sekali) berkumpul untuk membahas hal-hal yang segan dijelaskan orang tua.
Kacau kan ??...