May 23, 2009

Buku Ilusi Negara Islam : Wahid Institute

ILUSI NEGARA ISLAM

Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia

Gerakan garis keras transnasional di Indonesia terdiri dari kelompok-kelompok di dalam dan di luar institusi pemerintahan/parlemen yang saling mendukung untuk mencapai agenda bersama mereka. Bahaya paling jelas adalah identifikasi Islam dengan ideologi Wahabi/Ikhwanul Muslimin yang sangat ampuh membodohi umat Islam. Mereka menyusup ke bidang-bidang kehidupan bangsa Indonesia, terutama ormas-ormas Islam moderat, institusi pendidikan dan pemerintahan; dan dengan dalih membela dan memperjuangkan Islam, melakukan cultural genocide untuk menguasai Indonesia. Formalisasi agama (baca: Islam) yang mereka lakukan hanya dalih untuk merebut kekuasaan politik.

Merespon gerakan ini, PP. Muhammadiyah menerbitkan SKPP Nomor 149/Kep/I.0/B/2006 untuk menyelamatkan Persyarikatan dari infiltrasi partai politik seperti PKS. Nahdlatul Ulama juga mengeluarkan fatwa bahwa Khilafah Islamiyah tidak mempunyai rujukan teologis baik di dalam al-Qur’an maupun Hadits. PBNU mengingatkan bahwa ideologi transnasional berpotensi memecah belah bangsa Indonesia dan merusak amaliyah diniyah umat Islam

Ketegangan kelompok moderat dengan gerakan garis keras adalah manifestasi perseteruan al-nafs al-muthmainnah dengan hawa nafsu. Pengetahuan yang terbatas membuat hawa nafsu tidak mampu membedakan antara washîlah (jalan) dari ghâyah (tujuan), dalam memahami Islam pun kerap mempersetankan ayat-ayat lain yang tidak sejalan dengan ideologinya. Hal ini juga mencerminkan hilangnya daya nalar dalam beragama.

Buku hasil penelitian selama lebih dari dua tahun ini mengungkap asal usul, ideologi, dan agenda gerakan garis keras transnasional yang beroperasi di Indonesia, serta rekomendasi membangun gerakan untuk menghadapi dan mengatasinya secara damai dan bertanggung jawab.

Download

February 28, 2009

Menyoroti Iklan PKS

Mengamati dan mencermati iklan-iklan politik di berbagai media khususnya elektronik (terutama televisi) berkenaan dengan pemilu 2009. Maka PKS yang mengklaim dirinya sebagai partai Islam dengan slogannya: Bersih, Peduli, Profesional; ternyata dalam praktek politik, tidak lebih ataupun sama dengan partai sekuler, baik itu yang berjargon nasionalis religius yaitu PD (Partai Demokrat) ataupun lainnya.

Ada empat macam atau jenis iklan yang dikeluarkan dan ditayangkan di TV oleh PKS sebagai pembentukan citra diri. Sepanjang yang dapat saya tonton selama 'tune-in' di channel TV Nasional ataupun Lokal.

Pertama, tentang pengesanan akan responsifnya PKS di dalam membantu para korban bencana alam. Lucunya, soal perang Israel Vs Hamas di jalur Gaza pun dimasukkan kedalam iklan politiknya untuk membuktikan bahwa PKS 'concern' atas kemanusiaan. Dimana sebenarnya bukanlah kemanusian semata yang menjadi motifnya, melainkan hanya satu hal yaitu: ke-BROTHERHOOD-an

Kedua, mengenai kiprah para perempuan PKS di dalam turut serta membangun di seluruh pelosok negeri bumi pertiwi.

Ketiga, sebenarnya iklan ini sangat-sangat anti ideologi yang diusung oleh PKS sendiri dengan Islam dan Syariat-nya. Bisa dimaklumi iklan ini ditujukan hanya untuk dapat meraup suara dari kaum muda ataupun mereka yang pertama kali ikut Pemilu.

Dengan mengambil gaya VJ, dimana kebanyakan anak muda generasi MTV 'nongkrongin' TV untuk melihat acara-acara yang dikemas sesuai dengan dinamika seorang muda. Maka di iklan ini PKS menampilkan seorang VJ perempuan dengan dandanan anak muda masa kini yang modern dan dinamis. Tanpa berjiblab dengan rambut diumbar. VJ ini pun 'ngoceh' soal bersih. Dengan merujuk kepada para kader PKS di legislatif yang tidak terlibat korupsi dan persekongkolan. Di iklan ini pun PKS berusaha untuk membohongi pemirsa seolah-olah PKS adalah partai terbuka yang menerima semua golongan dengan perlakuan sama.

Keempat, menampilan kader PKS di pemerintahan sekarang yaitu Mentan Anton Apriyantono dengan jargon besar tentang swasembada beras. Tetapi sayangnya, salah dua menterinya yaitu Menpora Adhyaksa Dault tidak muncul dengan kesuksesannya dalam bidang keolahragaan dan kepemudaan. Kecuali sebelumnya sudah menghabiskan dana di kementeriannya untuk beriklan samar, guna mendukung partainya yaitu: PKS. Dengan narasi siapakah otak dibelakang swasembada beras? Diikuti pula informasi mengenai 7 tahun berganti menteri, dan hanya pada Mentan Anton Apriyantono inilah Swasembada beras dicapai. Pertanyaannya kemudian apakah benar klaim PKS ini terhadap keberhasilan kadernya itu? (akhir-akhir ini harga sembako malah merambat naik)

Bahwa keprofesionalan dirinya dan kepedulian kepada petani lah swasembada beras bisa tercapai, tentunya tidak ketinggalan ditambahi dengan kata bersih. Bersih dari memperkaya diri sendiri ataupun kelompok dan golongannya untuk menunjukan bahwa kader-kader PKS itu amanah.

Mari kita buktikan dengan data yang terambil dari wikipedia, karena mencari data di bulog, hanya itulah yang diperoleh. Selebihnya memang bulog tidak mengurusi data, sehingga website sekedar pajangan. Sedangkan di Departemen Pertanian, informsai tentang perberasan ini juga sama saja mencari jarum dalam jerami. Antara GKG (Gabah Kering Giling), GKP (Gabah Kering Panen), GKS (Gabah Kering Simpan) dengan proyeksi yang tidak memperhitungkan puso akibat bencana atau serangan hama.

Sangat susah untuk mendapatkan data yang sinkron antara institusi seperti BPS, DEPTAN dan BULOG dalam persoalan beras. Sehingga orang awam akan gigit jari untuk mengetahui secara aktual data yang dimaksudkan institusi A itu sinkron dengan B dan sinkron pula dengan institusi C. Jangan berharap, sedangkan Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian yang jelas berkecimpung dengan data tentunya. Berbicara soal angka juga tidak pasti data angka mana yang benar tahun 2008 diharapkan mencapai 61 juta ton, sedangkan proyeksi Deptan 60.28 juta ton.

Kalaupun diklaim sebagai swasembada beras, pertanyaannya adalah "untuk apa masih impor beras pada 2006 sebesar 150.000 tons dan tahun 2007 sebesar 500.000 ton?" Itu baru sisi impor, dan jangan pula dilupakan, masih ada rakyat bangsa ini yang makan dengan nasi aking. Apa yang mesti dibanggakan dengan kata swasembada beras? Jika pada realita petani berebut pupuk dan obat-obatan pembasmi hama dan tanaman gulma dalam proses produksi ??. Terlebih penting lagi adalah daya beli terkait dengan 'income' dari hasil jual berasnya, apakah meningkat di bawah Mentan ini?

Melihat carut marut data beras sebagaimana sudah dituliskan di atas, sedangkan di sisi lain PKS mengklaim bahwa kadernya adalah otak di belakang swasembada beras. Memang benar, kalau otak tidak melihat tahun-tahun lampau ketika PKS masih bergerilya di bawah tanah, sedangkan Indonesia sudah berswasembada.

Tidak perlu ada Mentan seperti Anton Apriyantono. Bilamana pupuk, obat-obatan, dan irigasi disertai pula dengan benih unggul ditunjang oleh iklim yang bersahabat ada di belakang musim tanam, maka hasil panen pun akan melimpah. Dan swasembada pun tidak perlu diklaim sebagai hasil kerja dari seorang Menteri Pertanian.

Dari empat macam iklan PKS itu, semuanya dibuat hanyalah untuk menebar dusta apalagi iklan ketiga and keempat. Siapa percaya dengan partai dusta yang meskipun jargonnya Bersih, Peduli , Profesional sekalipun? Anda?

Bila Para Intelektual Muda Membahas Proses Lahir Melahirkan

Berpuluh-puluh tahun yang lalu, seperti hampir semua anak kecil di dunia; saya pernah bertanya-tanya "Dari manakah datangnya seorang anak?". Dan saya pernah mempunyai pemikiran (menurut saya dulu) sangat indah. Menurut pemikiran saya yang waktu itu belum mengenal istilah pembuahan ataupun proses-proses kenikmatan yang mendahuluinya hahaha..., anak dihasilkan dari pengharapan dan doa.

Saat sepasang suami-istri menikah, maka diberkatilah mereka. Mereka akan saling mengasihi dan berdoa bersama akan datangnya seorang anak. Oleh karena itu, tidak jarang saya waktu kecil dulu sering mendengar perkataan, "Mereka masih menunggu datangnya seorang anak dalam kehidupan mereka". Wah, kenapa pakai kata-kata seperti itu? Kesannya terlalu 'saru'. Sampai-sampai muncullah pemikiran saya bahwa seorang anak tiba-tiba 'diselipkan' begitu saja ke rahim seorang ibu.

Belakangan saya baru tahu kalau seorang anak itu bukan ditunggu kedatangannya, tapi 'diusahakan'. Yah mungkin juga saya bisa berpikir seperti itu karena dulu belum tahu ada kasus seperti 'hamil di luar nikah', 'kecelakaan' ataupun 'unwanted child' (Nah kalau memang anak didatangkan dengan doa, tentunya atas persetujuan Tuhan dong. Dengan kata lain yang bisa hamil itu cuma istri-istri dari pasangan yang sah secara agama dan direstui oleh seluruh sanak keluarga). Waktu itu juga sepertinya gelar MBA (Married By Accident) belum begitu populer.

Tapi saya pernah mendengar sebuah berita di televisi yang mengubah konsep 'anak datang dari doa'. Kalau tidak salah ingat, berita tersebut tentang seorang guru yang amat sangat genit dan sangat 'dekat dan akrab' dengan muridnya. (dekat dalam arti, Sangat... dekat sekali dalam makna denotasi). Nah kira-kira laporan yang dibacakan oleh pembawa berita (atau apalah namanya yang baca berita pas dikasih gambar) itu berbunyi, "Tersangka terkenal suka memegang-megang siswi. Ada yang pipinya dielus, bahkan ada yang hamil.".

Sudah bisa ditebak apa yang ada di pikiran saya waktu itu "Oh... ternyata mengelus pipi bisa berefek samping hamil!!!". Pikiran saya tidak berhenti di sana, lalu saya mengambil satu kesimpulan teori: "Sentuhan seorang lelaki bisa meresap ke dalam kulit dan akhirnya tiba di perut. Membesar, membesar, dan akhirnya menjadi seorang bayi". Hmm, bahaya bener !!!... Pantesan orang-orang tua selalu bilang kepada anak gadisnya, "Hati-hati, jangan tidur sama lelaki!!". Wah, berarti pas tidur seranjang, sebelah-sebelahan, tiba-tiba tengah malam nanti ada 'sesuatu' yang tiba-tiba merayap keluar dari si jantan dan menyusup ke perut betina? Dan TUING!!! Mengembanglah perut sang betina.

Tapi, belakangan (saat saya kira-kira sudah SMP) ibu teman saya malah bilang kepada kakak perempuan teman saya, "Tidur sama cowok itu gak papa. Asal bener tidur bareng ya. Kalau gak tidur, nah, itulah yang bahaya!". Hm... ada benarnya juga sih...

Oh iya, ngomong-ngomong. Kalau dilihat di komik ataupun di film kartun, ada yang menceritakan bahwa bayi itu didatangkan oleh burung besar! (entah jenis apa dan dari mana). Wah... kalau dipikir-pikir, aneh juga ya cerita ini, kira-kira masih ada anak kecil yang percaya gak ya? Soalnya menurut fakta, banyak hewan termasuk burung tentunya, terancam punah karena ekspansi wilayah yang dilakukan manusia ke habitat mereka di alam. Lalu di mana letak logikanya kalau pembawa kelahiran itu sendiri terancam punah sementara manusia malah semakin banyak?

Yah, mungkin memang seharusnya cerita film kartun tidak boleh dianggap serius. Mari kita ke tahap selanjutnya, hal lahir melahirkan. Hm.. Sepertinya saya mengerti istilah 'caesar' terlebih dahulu daripada lahir alami. Kenapa bisa begitu? Gampang saja alasannya. Setelah bayi tumbuh besar di dalam perut, ia perlu segera dikeluarkan sebelum perut ibunya meledak. Nah cara paling cepat adalah membuka perut ibu, mengeluarkan bayi, lalu kita tutup kembali. Hampir persis sama seperti cara kerja resleting. Bagaimana prosesnya secara lebih mendetail? Ah, peduli amat dengan tetek bengek proses 'caesar' itu. Toh dokter pasti punya obat bius kan? Tinggal suntik sana suntik sini, siaplah perut ibu dibedah tanpa rasa sakit.

Pada waktu masih SD, seorang teman menceritakan teorinya yang lebih ajaib lagi. Katanya, sebenarnya saat ibu hamil, isi perutnya adalah cairan. Lalu bagaimana cara melahirkan? Dengan penuh keyakinan dia berkata, "Melalui cara yang sama kayak kencing." "Heh? Kenapa bisa begitu? Kalau yang keluar cuma cairan, bayinya mana? Apa harus dibekukan sampai pada suhu 0°C? Pake cetakan kue?"... "Denger dulu dong. Setelah semua cairan dikeluarkan, kempeslah perut si mama. Tugas dokter adalah memastikan agar cairan tersebut tertampung seluruhnya dengan baik. Jangan sampai ada yang tumpah! Nanti bisa-bisa bayinya cacat. Setelah ditampung, biarkan beberapa lama, lalu dengan sendirinya air kencing itu akan berubah menjadi seorang bayi!!!" ... Heh? Kok gaya penjelasannya bahkan seperti di resep-resep masakan? (setelah matang, biarkan beberapa lama, lalu makanan siap dihidangkan hehe...).

Mungkin juga teman saya itu berpikir kalau setelah cairan itu ditampung, lalu dimasukkan ke dalam inkubator. Jadi guna inkubator seperti guna oven pada pembuatan roti. Masukkan cairan, lalu cairan tersebut akan mengembang, sebagian menjadi daging, tulang, sebagian besar masih berupa cairan, yaitu darah.

Mungkin teman saya itu terinspirasi untuk membandingkan antara inkubator (yang bentuknya kotak) yang ada di rumah sakit dan oven (kotak juga!) yang ada di dapur. Hehehe.... Begitulah kalau para intelektual muda (yang sangat muda sekali) berkumpul untuk membahas hal-hal yang segan dijelaskan orang tua.

Kacau kan ??...

February 26, 2009

Mengapa Saya Golput ??

Beberapa hari yang lalu, di sudut sebuah kafe kawasan Jakarta Selatan. Saya terlibat sebuah diskusi dengan 2 orang Caleg dari sebuah partai politik peserta pemilu 2009. Diskusi yang intinya adalah menanyakan mengapa saya memilih untuk GOLPUT. Diskusi itu berlangsung ringan dan santai, dengan selingan "pemandangan-pemandangan indah" yang 'bersliweran' di depan kafe ataupun di dalam kafe itu sendiri (seger banget mata gue Bang !!! Ampe ga konsen jawab pertanyaannya hahahaha). Dan dari diskusi ringan itulah, saya mempunyai ide untuk menurunkan tulisan ini.

Saya mengajak teman-teman untuk "flashback" pada kejadian 38 tahun lalu. Tepatnya tanggal 3 Juni 1971, sebulan sebelum pemilu 1971 di Gedung Balai Budaya Jakarta. Ketika itu Arief Budiman didampingi oleh aktivis-aktivis mahasiswa dan pemuda, memproklamirkan sebuah gerakan moral sebagai sikap protes mereka terhadap sistem di kala itu. Gerakan moral itu mereka namakan dengan "Golongan Putih" alias GOLPUT. Walau setelah memproklamirkan gerakan moral tersebut mereka ditahan oleh penguasa, tetapi wacana GOLPUT sudah menjadi isu yang bergulir terus menerus sampai sekarang. Dan wacana ini semakin memanas menjelang pemilu 2009 (bahkan MUI sampai mengeluarkan Fatwa Haram untuk GOLPUT).

Kejadian 38 tahun silam ini dipandang oleh banyak pengamat sebagai cikal bakal lahirnya gerakan GOLPUT INTELEKTUAL. Memang sih, pada tahun 1955 GOLPUT sudah muncul di pemilu pertama republik ini. Tetapi saat itu GOLPUT lebih diartikan sebagai ketidaktahuan masyarakat tentang pemilu. Banyak sekali diantara mereka yang tidak menggunakan hak politiknya. Maka dari situ lah angka Golput muncul. GOLPUT INTELEKTUAL tidak sama dengan GOLPUT di tahun 1955. Angka GOLPUT sendiri tidak bisa diukur. Karena dalam sistem pemilu di republik ini setiap suara yang tidak sah adalah GOLPUT. Ciri-ciri gerakan GOLPUT INTELEKTUAL antara lain adalah tidak menandai gambar partai manapun, menandai lebih dari satu gambar partai, atau memang sama sekali tidak menggunakan hak pilihnya (tidak datang ke TPS). Arief Budiman dan kawan-kawan telah membangkitkan gerakan ini, dan usungan mereka adalah GOLPUT yang berdasarkan pada suatu analisa; bahwa sistem yang ada hanyalah sistem untuk menopang kekuasaan yang ada. Sebuah sistem yang sengaja dikloning oleh penguasa untuk melanggengkan tirani mereka. Bahkan dulu pernah diusulkan agar GOLPUT disertakan sebagai peserta pemilu dengan tanda gambar berwarna putih (kalau saya sih mengusulkan memakai tanda gambar Mak Erot atau Syech Puji hehehe).

Yang ingin saya tulis disini bukanlah ajakan untuk GOLPUT, akan tetapi "membuka mata" teman-teman bahwa GOLPUT INTELEKTUAL bukanlah sebuah dosa politik. Meskipun saya sadar bahwa sikap ini tidak bisa memberikan sebuah solusi yang konkrit. Yang harus teman-teman pahami adalah bahwa sikap saya ini adalah sebuah indikasi bahwa tidak semua masyarakat sepakat dengan sistem yang berkembang. GOLPUT INTELEKTUAL adalah sebuah "tamparan" politis terhadap sistem yang tidak bisa kita lepaskan dari protes politik yang tengah berkecamuk saat ini. Jika dipikir secara cerdas, gerakan ini sangat memiliki keterkaitan terhadap proses legitimasi sistem dan penguasa yang ada. Dan jika kita cerdas juga menyikapinya, maka dari sinilah akan ditemukan akar permasalahannya; sehingga muncul poin-poin solusi yang konkrit. Selama GOLPUT INTELEKTUAL tidak disikapi secara cerdas dan hanya dianggap sebagai 'kaum marginal politis', maka selamanya pula sistem yang berkembang tidak akan bersifat populis.

Tapi benarkah kaum GOLPUT INTELEKTUAL itu marginal ?? Tergantung anda mendefinisikan marginal itu sendiri. Dari segi kuantitas, jika kita mencermati pergerakan jumlah GOLPUT pada setiap ajang pemilu, maka jumlah GOLPUT yang muncul dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Persentase GOLPUT pun terbilang fenomenal, karena untuk mencapai angka 5% saja dalam Pemilu bagi sebuah parpol sudah sangat berat. Sementara kita bisa lihat, angka GOLPUT selalu berkisar pada angka di atas 6% dari total jumlah pemilih. Hal ini berarti jauh di atas Electoral Threshold (ET) yang cuma 2%. Itu bisa berarti bahwa jika GOLPUT ini kita lembagakan, maka menurut UU dia otomatis akan lolos dalam pemilu 2009 ini sebagai salah satu alternatif pilihan masyarakat. Dan tidak benar juga, jika kita menilai GOLPUT INTELEKTUAL hanyalah serpihan masyarakat ataupun indikasi kebodohan masyarakat, apalagi golongan marginal. Disinilah perlu sebuah kedewasaan politik untuk mengakui dan menyikapi secara arif keberadaan GOLPUT ini sebagai otokritik terhadap sistem yang berkembang.

Ketakutan terhadap GOLPUTt hanyalah ketakutan tanpa dasar jelas. Yang lebih lucu jika ketakutan itu didasarkan pada kehawatiran minimnya suara parpol Islam, karena umat Islam yang GOLPUT. Logikanya dengan proporsi umat Islam yang lebih dari 80% di negara ini, jika mereka semua GOLPUT; maka jelas Pemilu tidak akan terlaksana. Dan jika ini terjadi, justru suara umat Islam akan lebih terangkat dengan pilihan jelas, MENOLAK SISTEM YANG ADA. Logika kedua, jika partai berbasis Islam saja enggan mereka pilih, apalagi partai yang berbasis non-muslim ?? Tentu mereka akan lebih menjauh. Logika ini tentu saja sangat kasar, tetapi inti dari ketakutan-ketakutan seperti itu tidak perlu kita khawatirkan. Jika ada yang berpikir seperti itu, ada dua hal yang mungkin terjadi. Pertama, mereka (partai-partai politik) tidak percaya diri dengan program-programnya. Kedua, mereka menganggap pemilu hanya sebuah pelampiasan emosi politik; dimana cara berpikir pemilih tidak lagi digunakan saat itu.

Pemilu 2009 harus diakui akan memberikan celah peningkatan suara GOLPUT. Kekecewaan yang terus menerus dirasakan terhadap kiprah Parpol (berdasarkan jajak pendapat di berbagai media), setidaknya menjadi alasan tersendiri untuk lahirnya GOLPUT di pemilu mendatang. Setidaknya, proses lahirnya pemilu 2009 pun sudah banyak menuai protes (dari segi konstitusi). Dan akan sangat mungkin jika gelombang protes ini tidak disikapi secara arif, maka inilah riak-riak kecil yang akan melahirkan gelombang GOLPUT besar saat pemilu nanti.

Marilah kita berpolitik secara dewasa. Dewasa dalam memahami bahwa hak politik bukanlah sekedar memilih dan dipilih. Tetapi juga termasuk tidak memilih atau dipilih sekalipun. Artinya, GOLPUT INTELEKTUAL adalah sebuah sikap politis yang secara dewasa harus kita sikapi dan akui, bukan kita eliminir. Toh, jika dia memang lahir dari sebuah proses analisa mendalam, bukankah ini lebih membanggakan??. Karena masyarakat sudah lebih cerdas berpolitik. Tapi tentu saja, lagi-lagi kita harus garis bawahi bahwa GOLPUT disini adalah GOLPUT INTELEKTUAL. Sebuah sikap yang lebih mengedepankan analisa dan berpikir mendalam, bukan sekedar emosional, apalagi ketidaktahuan. Dan semoga, teman-teman yang nanti menggunakan hak pilihnya akan berdasarkan pada proses seperti itu, bukan hanya sikap yang berdasarkan pada primordialisme.

Saya sangat sadar bahwa GOLPUT bukanlah solusi. Tetapi akan semakin tidak memberikan solusi bagi mereka (kaum GOLPUT), jika harus memilih salah satu Parpol yang notabene tidak mengakomodir pemikiran mereka. Parpol bisa jadi dianggap barang haram di mata mereka jika kondisinya seperti itu. Logikanya, jika di depan kita disajikan 38 makanan yang tidak bisa kita makan karena tidak sesuai dengan metabolisme dan selera kita, akankah kita memaksakan diri memakan salah satunya ?? Hal yang paling bijak adalah kita menolak makanan tersebut, dan seharusnya 'sang penyaji' yang bijak juga menyikapinya dengan menyadari perlunya makanan alternatif untuk kita. Sebagai penutup, pikirkanlah pertanyaan ini. Salahkah jika masyarakat tidak memilih karena tidak ada satu pun parpol yang mereka nilai aspiratif atau bagus ?? Haruskah mereka melakukan kebodohan dengan dogma “ASAL PILIH” ?? Dari sini kita akan tahu, kenapa GOLPUT itu lahir.

Selamat "ber-PEMILU" dengan menggunakan intelektual ….

Ponari

Ada pepatah yang mengatakan bahwa "putus asa itu dosa". Sebab manusia itu jika sudah putus asa, maka semua neuron-nya akan binasa. Lihat saja kejadian akhir-akhir ini, untuk mendapat air 'kobokan' dari 'batu sakti' milik seorang bocah yang bernama Ponari; orang-orang yang (katanya) putus asa itu rela datang dari jauh, antri berhari-hari, dan berkorban materi, bahkan jiwa (paling tidak sudah 4 nyawa yang melayang terhimpit dalam antrian). Tidak mengherankan jika tiba-tiba banyak yang merasa berhak menjadi orang tua asuh Ponari, Bocah SD yang (konon) 'kesamber' petir dan sakti itu. It's all about the money, baby. Apakah ini sebuah bukti nyata lagi, bahwa uang itu tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak punya belas kasihan sedikitpun ??.

Hmmm ... Putus asa itu dosa? Kalau begitu 'kejam bener' yang disebut Allah, Tuhan, dan nama sejenisnya yang menciptakan manusia dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Putus asa adalah sifat dari manusiawi karena manusia bukanlah mesin atau robot yang tidak memiliki rasa dan perasaan. Bilamana suatu saat merasa putus asa, adalah satu hal sangat lumrah asal kemudian tidak diikuti dengan tindakan bunuh diri. Tetapi keputusaan itu dimaknai sebagai persinggahan untuk kemudian bangkit kembali guna menaklukkan tantangan-tantangannya.

Demikian juga dengan orang-orang yang berbondong-bondong untuk menemui 'dukun' Ponari demi kesembuhan dari sakit dan penyakit yang dideritanya. Mereka bukanlah orang-orang yang putus asa, melainkan orang-orang yang mencari ikhtiar sebagai daya upaya agar bisa sehat wal afiat kembali seperti semula. Kalau mereka putus asa, maka mereka tidak akan antri hingga menginap semalaman untuk mendapatkan air yang dicelupi oleh gengaman tangan Ponari. Mereka tidak patut ditertawakan atau dihina dengan mengatakan sebagai sebuah keputusasaan yang merupakan dosa dan neuron-nya akan binasa.

Terlepas dari irrasional (tergantung dari sudut mana memandang), fenomena Ponari adalah juga kegagalan pemerintah memberikan jawaban atas ekspektasi masyarakat terhadap kesehatan. Ketika masyarakat mengikuti jalan rasional dengan berobat ke institusi-institusi resmi yang diakui oleh akademisi dan pemerintah, pada kenyataannya tidak memberikan hasil memuaskan seperti yang diharapkan, maka fenomena Ponari akan senantiasa terjadi. Apakah hanya sebagai sugesti atau memang 'miracle', kedukunan Ponari sepatutnya tidak dijadikan bahan tertawaan.

February 24, 2009

Aku Bersyukur

Tuhan itu Maha Baik. Dia memberi kita ikan, tetapi kita harus mengail untuk mendapatkannya. Demikian juga jika aku terus menunggu waktu yang tepat, mungkin aku tidak akan pernah mulai.

Aku memulainya sekarang. Aku memulai di mana kuberada sekarang dengan apa adanya. Aku tidak pernah memikirkan kenapa aku memilih seseorang untuk dicintai, tapi aku sadar bahwa cintalah yang memilihku untuk mencintainya.

Perkawinan memang memiliki banyak kesusahan, tetapi kehidupan lajang tidak memiliki kesenangan. Kubuka mata lebar-lebar sebelum menikah, dan biarkan mataku setengah terpejam sesudahnya. Aku sadar, menikahi perempuan karena kecantikannya sama seperti membeli rumah karena lapisan catnya. Harta yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah.... hati seorang perempuan.

Begitu juga persahabatan, persahabatan adalah satu jiwa dalam dua raga. Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya. Seorang sahabat adalah orang yang dapat mendengarkan lagu di dalam hatiku dan akan menyanyikan kembali tatkala aku lupa akan bait-baitnya. Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjagaku.

Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan, tapi aku tak pernah menyesal untuk bertemu dengan orang lain. Tapi aku akan menyesal jika orang lain menyesal bertemu denganku. Aku suka berteman dengan orang yang membela kebenaran. Dialah hiasan dikala aku senang, dan perisai di waktu aku susah. Aku sadar, aku tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika aku mengharapkan seseorang tanpa kesalahan. Aku sadar, semua manusia itu baik kalau aku bisa melihat kebaikannya dan menyenangkan kalau aku bisa melihat keunikannya. Tapi aku juga sadar kalau semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau aku tidak bisa melihat keduanya.

Begitu juga kebijakan. Kebijakan itu seperti cairan, kegunaannya terletak pada penerapan yang benar. Orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal, sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat.

Aku sadar kebijakan sejati tidak datang dari pikiranku saja, tetapi juga berdasarkan pada perasaan dan fakta. Tak seorang pun sempurna. Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.

Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah. Apa yang berada di belakangku dan apa yang berada di depanku adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalamku.

Aku tak bisa mengubah masa lalu.... tetapi dapat menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depan.

Bila aku mengisi hatiku dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan, maka aku tak memiliki hari ini untuk kusyukuri. Aku bersyukur telah mengisi hatiku ... denganmu. :)

Kesempatan atau Pilihan ?

Jikalau aku bertemu orang yang tepat untuk dicintai, dan ketika aku berada di tempat pada saat yang tepat, aku sadar itu adalah kesempatan. Ketika aku bertemu dengan seseorang yang membuatku tertarik, aku sadar itu bukan pilihan, itu juga namanya kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, aku sadar itupun adalah kesempatan.

Bila aku memutuskan untuk mencintai orang tersebut, bahkan dengan segala kekurangannya, aku sadar itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan. Ketika aku memilih bersama dengan seseorang walau apapun yang terjadi, aku sadar itu adalah pilihan. Bahkan ketika aku menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih cerdas, lebih kaya daripada pasanganku dan tetap memilih untuk mencintainya, aku sadar itulah pilihan.

Perasaan cinta, simpatik, tertarik, datang bagai kesempatan padaku. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang aku lakukan. Kalau aku berbicara tentang pasangan jiwa, aku teringat suatu pepatah "Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil". Aku sadar pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang yang diciptakan hanya untukku. Tetapi tetap berpulang padaku untuk melakukan pilihan, apakah aku ingin melakukan sesuatu untuk mendapatkannya atau tidak. Aku nanti mungkin bertemu pasangan jiwaku. Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwaku, adalah pilihan yang harus aku lakukan.

Aku sadar, aku terlahir di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai. Tetapi untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.